Kamis, 29 April 2010

secangkir kopi

Tahun yang sulit. Tapi kami selalu meluangkan waktu untuk menikmati secankir kopi di pagi hari. Selepas kuliah, diiringi obrolan-obrolan panjang tentang rsa, tentang hidup. Dari sini kami belajar tentang rasa, hidup layaknya secangkirkopi. Jika racikannya pas, maka kita akan mendapatkan cita rasa yang nikmat. Begitulah hidup, tawa, tangis, kehilangan, apapun itu, harus dalam takaran yang pas. Seerti halnya membuat secangkir kopi, berapa sendok kopi, berapa sendok gula, berapa sendok cream, seberapa panas air yang digunakan, akan sangat mempengaruhi cita rasanya. Hidup yang “nikmat” pun adalah ketika kita mampu menakar seberapa banyak tawa, seberapa banyak kesedihan, seberapa banyak tangis yang mampu kita racik menjadi sebuah cita rasa yang pas. Gusti Mboten Sare. Kalimat itulah yang sering kami ucapkan ketika kami merasa gagal dalam meracik cita rasa hidup ini